Jambu Air vs Jambu Dirsono, Mirip Tapi Gak Sama!

by Jamilatul Istiqomah, April 11, 2026

Jambu Air vs Jambu Dirsono, Mirip Tapi Gak Sama!

Poto : Icha Cantik

Kalau ngomongin jambu, jujur aja ya… aku teringat cerita jam istirahat metik jambu di depan kantor satpam kampus. 

Mirip loh jambunya. Mana aku lagi denger nama jambu, jambu Dirsono. Ah dolanku kurang adoh ya wkkw

Ku kira yang penting merah, menggoda, tinggal petik, makan, selesai.

Tapi ternyata… hidup gak sesederhana itu bestie 😌

Karena ada dua jenis jambu yang sering banget bikin orang ketuker: jambu air dan jambu Dirsono.


Kenalan Dulu Yuk

Biar gak salah paham lagi, ini dia dua “tokoh utama” kita:

Jambu air

Jambu Dirsono


Sekilas? Kembar.

Aslinya? Plot twist banget. 


Perbedaan Spesifik: Jambu Air vs Jambu Dirsono


Poto: Jambu Dirsono (google)



poto : Jambu Air (google)

Yah, aku baru ngerasain jambu air. Untuk jambu dirsono yang matang belum tau rasanya gimana. Tapi yang mentah udah tahu rasanya wkwk 

Ini untuk info jambu dirsono, aku cari tahu di berbagai sumber. Berikut perbedaan yang spesifik ya....

1.  Rasa (ini yang paling kerasa!)

  • Jambu air → manis, segar, juicy (banyak air)

  • Jambu Dirsono → cenderung sepat, kurang manis, air sedikit

Jambu air enak dimakan langsung, Dirsono kadang bikin kaget wkwkw😭

2. Kandungan Air

  • Jambu air → sangat berair (makanya namanya “air”)

  • Jambu Dirsono → lebih kering & padat

Digigit langsung beda banget sensasinya.

3.  Tekstur Daging Buah

  • Jambu air → renyah & ringan

  • Jambu Dirsono → lebih tebal & padat

4. Warna & Penampilan

  • Jambu air → merah cerah / merah muda

  • Jambu Dirsono → merah tua pekat (kadang hampir gelap)

Dirsono biasanya kelihatan lebih “wah” dari luar.

5. Ukuran Buah

  • Jambu air → sedang

  • Jambu Dirsono → lebih besar

  • Poto: Jambu Dirsono (google)

  • Poto : Jambu Air (google)

6. Pohon

  • Jambu air 

    • Tinggi sedang

    • Tidak terlalu rindang

    • Buah gampang terlihat & dipetik

  • Jambu Dirsono 

    • Lebih tinggi & besar

    • Lebih rindang (teduh banget)

    • Daun lebih lebat & gelap.

Kalau kamu pernah salah ambil jambu juga… tenang, kamu gak sendiri wkwkwk


Cerita Jambu di Kampus

by Jamilatul Istiqomah, April 11, 2026

Cerita Jambu di Kampus



True Story

Jam istirahat di kampus, suasana lagi gabut maksimal. Tiba-tiba… mata kami terarah pada benda merah jambu cantik yang menggoda. Seketika langsung terbelalak. Refleks: kepo mode ON.

Dengan penuh semangat petualang (padahal cuma gabut), kami mencari asal-usulnya. Dan… ketemulah sebuah pohon di depan kantor satpam.

“Wahhh jambu air!”

Seketika mata kami berbinar, kayak nemu oase di tengah gurun. Tanpa pikir panjang, kami panen dadakan. Heboh. Ketawa. Rebutan. Pokoknya chaos bahagia.

Karena terlalu heboh, keluarlah pak satpam dari kantornya.



Dengan penuh percaya diri, salah satu dari kami bilang,

“Pak, nyuwun nggih 😁”

Pak satpam jawab santai,

“Eh itu masih muda lho, dimakan nggak enak.”

Kami langsung kompak membantah,

“Hah muda? Ini udah gede pak!”

“Warnanya juga udah cantik gini, ini jambu air kok!”

Sambil nunjukin hasil panenan kami yang cukup membanggakan.

Pak satpam cuma senyum tipis, lalu bilang,

“Kalau matang itu warnanya agak hitam gitu… Awas ya, kalau nggak dimakan, dihabisin lho nanti.”

(Jadi keinget dulu pernah ngambil kruntil mangganya simbah… terus dimarahin karena belum waktunya dimakan, tapi udah diambil 😭)

“Iya pak…” 

(padahal dalam hati: yakin nih pak? 😏)


Kami pun pergi sambil masih ngerumpi,

“Ah pak satpam ki ada-ada aja…”

“Mosok jambu matang warnanya hitam, itu mah busuk!”

Beberapa langkah kemudian…

Salah satu dari kami tiba-tiba berhenti.

“Eh… bener kata pak satpam deh. Ini kayaknya jambu dersono.”

“Hah? Mosok sih??”



Dan… momen penentuan pun tiba.

Gigitan pertama…

😐

😶

😑


Jeng… jeng… jeng…


BENERAN NGGAK ENAK.

Asamnya nyess, sepetnya nampol, harapan langsung runtuh seketika 🥲

Kami saling tatap… lalu ketawa ngakak.


Mohon maaf dari kami yang sempat tidak mempercayai pak satpam tadi.
Selain itu kabar sang jambu pun tidak termakan oleh kami huhuhuhu



Ini Cara Aku Atasi Pegal Tanpa Harus Berhenti Kerja

by Jamilatul Istiqomah, Maret 17, 2026

Ini Cara Aku Atasi Pegal Tanpa Harus Berhenti Kerja



Menjalani peran sebagai mahasiswa aja cukup menguras energi. Tapi bagaimana jika dalam satu waktu, kamu juga harus menjadi ibu rumah tangga sekaligus freelancer?

Itulah yang aku jalani setiap hari.

Pagi hari dimulai dengan aktivitas rumah tangga—menyiapkan sarapan, beres-beres, memastikan semuanya berjalan dengan baik. Siang hari lanjut dengan tugas kuliah, diskusi, atau sekadar mengejar deadline akademik. Belum selesai di situ, malam hari biasanya waktunya mengerjakan pekerjaan freelance—menulis, revisi, atau membuat konten.

Kalau dihitung-hitung, hampir tidak ada waktu benar-benar “off”.

Ah sok sibuk amat ya aku tuh wkwk tapi itu bener kok, ada aja kerjaannya. 

Dan satu hal yang pasti selalu ada dalam setiap aktivitas itu:
👉 keyboard dan layar laptop



Dampak Aktivitas Padat: Pegal yang Sering Diabaikan

Awalnya aku menganggap pegal itu hal biasa. Tapi lama-lama, efeknya mulai terasa:

  • jari terasa kaku setelah mengetik lama

  • pergelangan tangan nyeri

  • bahu terasa berat

  • punggung mulai tidak nyaman

Yang paling terasa sebenarnya bukan hanya di fisik, tapi juga ke mood.

Saat tubuh mulai lelah, fokus jadi berkurang.
Kerjaan terasa lebih berat.
Dan yang paling bikin stres: deadline tetap berjalan.

Kalau sudah begini, rasanya ingin berhenti sebentar… tapi kenyataannya tidak bisa.

Hidupku, rasanya maksaaa banget pokoknya hahaha.


Kenalan dengan Solusi Simpel: Minyak Herba Sinergi Sensatia

Di tengah rutinitas yang padat itu, aku akhirnya mencoba Minyak Herba Sinergi Sensatia (MHS Sensatia).

Awalnya tidak berharap banyak. Tapi justru dari hal kecil ini, aku mulai merasakan perubahan.

Minyak ini adalah minyak herbal yang digunakan sebagai obat luar untuk membantu meredakan:

  • pegal linu

  • nyeri otot

  • kelelahan tubuh

  • ketegangan akibat aktivitas berulang

Buat kamu yang sering duduk lama atau mengetik seharian, ini benar-benar relate deh.


Kenapa Memilih Minyak Herba Sinergi Sensatia?

Sebagai pengguna, aku cukup selektif memilih produk, apalagi yang dipakai rutin. Ada beberapa alasan kenapa akhirnya aku nyaman menggunakan minyak ini:

✔️ Halal dan Aman

Produk ini merupakan bagian dari produk HNI, sehingga:

  • sudah berlabel halal

  • terdaftar BPOM

  • aman digunakan sebagai obat luar

Ini penting banget, apalagi untuk penggunaan jangka panjang.

✔️ Kandungan Herbal Alami

Minyak ini dibuat dari ramuan herbal alami yang dikenal memiliki manfaat untuk:

  • membantu relaksasi otot

  • mengurangi ketegangan tubuh

  • memberikan efek hangat dan nyaman

Walaupun sederhana, justru kandungan alami ini yang membuatnya cocok dipakai sehari-hari.



✔️ Packaging Praktis

Dikemas dalam botol 100 ml yang:

  • ringan

  • tidak mudah bocor

  • mudah dibawa ke mana saja

Aku sendiri sering menyimpannya di meja kerja atau di dalam tas.


Pengalaman Pribadi: Dari Pegal ke Lebih Nyaman

Sebagai seseorang yang menjalani banyak peran, aku biasanya menggunakan minyak ini di beberapa kondisi:

  • setelah mengetik lama

  • saat tangan mulai terasa kaku

  • sebelum tidur

  • saat punggung terasa pegal

Dan jujur saja, efeknya cukup terasa.

Beberapa hal yang aku rasakan:

  • jari terasa lebih ringan

  • pergelangan tangan tidak terlalu tegang

  • bahu dan punggung lebih rileks

  • tubuh terasa lebih “lega”

Yang menarik, efek aromanya juga membantu menenangkan pikiran. Jadi bukan cuma fisik yang terasa lebih baik, tapi juga mental loh.



Tekstur dan Aroma: Nyaman Dipakai Sehari-hari

Salah satu hal yang membuatku betah menggunakan produk ini adalah dari segi tekstur dan aromanya.

Tekstur:

  • cair

  • ringan

  • cepat meresap

  • tidak terlalu lengket

Aroma:

  • lembut

  • tidak menyengat

  • memberikan efek relaksasi

Ini penting banget, karena tidak semua orang suka minyak gosok yang aromanya terlalu kuat.



Cara Pakai yang Super Praktis

Salah satu kelebihan lainnya adalah cara pakainya yang sangat mudah:

  1. Tuangkan minyak secukupnya

  2. Oleskan pada bagian tubuh yang pegal

  3. Pijat perlahan agar meresap

Tips dari aku:
👉 Gunakan sebelum tidur untuk hasil lebih maksimal

Catatan:

  • hanya untuk pemakaian luar

  • hindari penggunaan pada luka terbuka

Cocok untuk Siapa?

Minyak ini cocok untuk kamu yang:

  • sering bekerja di depan laptop

  • mahasiswa dengan tugas menumpuk

  • ibu rumah tangga dengan aktivitas padat

  • freelancer yang sering kejar deadline

  • siapa saja yang sering mengalami pegal otot

Intinya:
👉 siapa pun yang aktif dan sering merasa “capek fisik”

Bukan capek batin, beda lagi ya uhuhuhu

Ingat MHS tuh obat luar.


Kenapa Produk Ini Worth It?

Di tengah aktivitas yang tidak bisa dihentikan, kita butuh solusi yang:

  • praktis

  • mudah digunakan

  • tidak ribet

  • tetap efektif

Dan menurutku, Minyak Herba Sinergi Sensatia memenuhi semua itu.

Memang bukan solusi instan yang langsung menghilangkan semua rasa lelah. Tapi cukup membantu menjaga tubuh tetap nyaman sehingga kita bisa tetap produktif.

Pentingnya Mendengarkan Tubuh

Kadang kita terlalu fokus menyelesaikan semua tanggung jawab, sampai lupa satu hal penting: tubuh kita punya batas.

Sebagai mahasiswa, ibu rumah tangga, dan freelancer, aku belajar bahwa menjaga tubuh tetap nyaman itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan.

Karena kalau tubuh sudah “protes”, semua aktivitas juga akan ikut terganggu.

Betul apa betul? Wkkw betul kan...



Bagaimana Cara Dapatkan MHS?

Bisa dikepoin di link ini linktr.ee/minyamherbasinergi

Pada link tersebut, kamu akan dihubungkan dengam berbagai media sosial ataupun CS nya.


Kesimpulan

Menjalani banyak peran dalam satu waktu memang tidak mudah. Tapi dengan dukungan hal-hal kecil yang tepat, semuanya bisa terasa lebih ringan.

Minyak Herba Sinergi Sensatia mungkin terlihat sederhana, tapi manfaatnya cukup terasa dalam membantu meredakan pegal dan memberikan kenyamanan di tengah aktivitas padat.

Kalau kamu juga sering mengalami hal yang sama—pegal karena ngetik, duduk lama, atau kelelahan—tidak ada salahnya mencoba solusi sederhana ini.

Karena pada akhirnya, menjaga tubuh tetap nyaman adalah kunci untuk tetap produktif dan menjalani semua peran dengan lebih baik.


Keseruan Bedah Buku Antologi Cerpen UT Surakarta 2026

by Jamilatul Istiqomah, Maret 09, 2026


Keseruan Bedah Buku Antologi Cerpen UT Surakarta 2026

keseruan bedah buku antologi UT Surakarta 2026
                       Momen foto bersama setelah sesi bedah buku. Saya di tengah, ditemani Kak Uci di sebelah kanan dan Bu Yulia di sebelah kiri.


Ada hari-hari yang awalnya terasa biasa saja, tapi ternyata pulangnya membawa banyak cerita.

Hari Minggu, 8 Maret 2025 kemarin adalah salah satunya.

Terima kasih untuk UT Surakarta, khususnya Bu Yulia dan Kak Uci, yang sudah menghadirkan ruang belajar yang hangat dan penuh makna. Rasanya menyenangkan sekali bisa berkumpul bersama Komunitas Literasi UT Surakarta dalam momen yang sangat spesial: bedah buku sekaligus launching buku perdana antologi cerpen.

Buat saya, ini bukan sekadar acara. Tapi juga pengalaman yang berkesan.

Taraaa… acara dimulai.

Registrasi dan Pembukaan

Seperti biasa, sebelum acara dimulai, kegiatan diawali dengan registrasi. Peserta datang satu per satu, saling menyapa, dan suasana mulai terasa hangat.

Setelah semua siap, acara dibuka oleh Direktur UT Surakarta, Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si.

Sambutan beliau terasa hangat dan memberi semangat. Ada satu kalimat yang cukup membekas di kepala saya ketika beliau mengatakan bahwa:

"Pengalaman itu membentuk jiwa yang baru."

Saya langsung berpikir… iya juga ya.

Banyak hal dalam hidup yang akhirnya mengubah cara kita berpikir, bukan karena teori panjang lebar, tapi karena pengalaman yang kita jalani sendiri.

Momen Deg-Degan: Membaca Cerpen

Pembacaan cerpen di bedah buku UT Surakarta 2026Pembacaan cerpen di bedah buku UT Surakarta 2026

Setelah sambutan pembuka, acara dilanjutkan dengan sesuatu yang membuat saya agak deg-degan tapi juga senang.

Saya diberi kesempatan untuk membacakan cerpen karya saya sendiri yang dimuat dalam buku antologi cerpen tersebut.

Hehe… ini benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan.

Apalagi pembacaan cerpen itu diiringi petikan gitar dari Dek Krendy, Ketua Organisasi Mahasiswa UT Surakarta. Suasananya langsung terasa lebih hidup dan hangat.

Menariknya, sebenarnya saya dan Dek Krendy sudah pernah “bertemu” sebelumnya. Tapi waktu itu hanya di dunia maya, tepatnya dalam satu grup WhatsApp saat kegiatan Dies Natalis UT Surakarta ke-40 pada tahun 2024 yang mengusung tema inovasi pendidikan jarak jauh dalam bahasa daerah masing-masing.

Nah, kegiatan Dies Natalis ini, sempat kebingungan dengan beberapa hal. Saya juga sempat bertanya-tanya kepada Dek Krendy. Untungnya ia sangat membantu. 

Nah, di acara bedah buku ini akhirnya kami bisa bertemu langsung. Oh ya, menurutku dia pemuda yang keren dari segala arah deh.

Terima kasih banyak sudah diberi kesempatan tampil di kegiatan yang bagus ini. Semoga tidak mengecewakan ya… hehe.

Yuk, Masuk ke Acara Inti: Bedah Buku


komunitas literasi UT Surakarta

Setelah sesi pembacaan cerpen selesai, acara dilanjutkan ke inti kegiatan yaitu bedah buku antologi cerpen.

Acara ini dimoderatori oleh Bu Dra. Yulia Budiawati, M.Si yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur UT Surakarta pada periode 2018–2025 sebelum akhirnya posisi tersebut kini dipegang oleh Pak Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si.

Sementara itu, Kak Uci hadir sebagai narasumber yang membedah isi buku dengan cara yang santai, tetapi penuh makna.

Beliau ini full insight juga. Dari pengalaman hidupnya dan pengalaman nulisnya. Ah wow banget deh. Bisa dikepoin di IG nya @velou_ra

 Sebelum buku antologi ini diluncurkan, sebenarnya kami para penulis sudah beberapa kali bertemu secara daring melalui Microsoft Teams. Kak Uci lah yang membimbing kami dalam proses kepenulisan sepanjang tahun 2025.

(Mbak Maol itu yang tengah kerudung cream, vest coklat)

Daring ini dipandu sama Mbak Maol. Siapa sih yang gak tahu Mbak Maol UT Surakarta? Tahu lah ya. Seringkali juga aku chat an sama Mbak Maol ini. Seneng banget bisa bertemu dan ngobrol juga di acara bedah buku ini. 

Oh ya, kalau mengingat kembali sesi di Teams, yang paling saya ingat adalah saat kebingungan menuangkan ide.

Saat itu Kak Uci menyarankan untuk membuat mind map atau peta konsep terlebih dahulu, lalu ide-ide tersebut diurai sampai menjadi cerita yang lebih mengerucut.

Dan yang paling terasa justru saat proses revisi.

Di situ saya baru benar-benar sadar:

"Oh… ternyata begini cara menulis yang baik agar pembaca bisa masuk ke dalam tulisan."

Ngomong-ngomong soal Bu Yulia, saya sebenarnya sudah pernah bertemu beliau sebelumnya.

Waktu itu tahun 2023, saat beliau masih menjabat sebagai Direktur UT Surakarta dan melakukan kunjungan ke Pokjar Grobogan. Saat itu saya masih mahasiswa alih kredit PGSD.

Jujur saja, waktu pertama kali melihat beliau, saya sempat merasa tatapannya tajam dan terlihat cukup tegas.

Tapi ternyata ketika bertemu langsung lagi di acara bedah buku ini, kesannya justru berbeda. Bu Yulia ternyata ramah, asyik diajak ngobrol, dan terasa keibuan.

Benar-benar beda dari kesan pertama saya dulu. Hehe.

Kalimat yang Nempel di Hati

Dalam sesi bedah buku kemarin, ada beberapa kalimat yang rasanya langsung nempel di hati.

Kak Uci mengatakan sesuatu yang sederhana tapi kuat:

“Dunia boleh saja jungkir balik, tapi kita harus tetap utuh.”

Buku ini berisikan perjuangan untuk meraih mimpi-mimpi. Banyak juga insight yang diambil dari berbagai POV penulis. Tentunya, buku ini bakal menginspirasi para pembacanya. 

 Kak Uci juga menyampaikan terkait mimpi-mimpi, bahwa: 

"Percayalah mimpi itu pasti bakal terwujud,  namun menunggu timeline yang tepat." 

Beliau juga mengupamakan seperti, "mimpi itu kayak matahari dan bulan. Mereka tuh sama-sama bersinar, tapi tidak pada waktu yang sama." 

Udah kebayang kan? Isi dari buku kami hehe Semenarik itu deh pokoknya :-)

Sementara Bu Yulia juga memberikan pesan penting bagi para penulis:

“Menulis jangan diniatkan untuk banyak pembaca atau banyak cuan. Niatkan menulis untuk berbagi. Dengan begitu kita tidak mudah kecewa.”

Beliau juga menambahkan pesan yang tidak kalah penting:

“Seringlah membaca buku.”

Kalimat-kalimat itu terasa sederhana, tapi menenangkan.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan angka—berapa orang yang membaca tulisan kita, berapa yang membeli buku kita, atau berapa yang menyukai karya kita.

Padahal mungkin yang lebih penting adalah keberanian untuk menulis dan berbagi cerita.

Momen Launching Buku

launching buku antologi cerpen komunitas literasi UT Surakarta 2026

Setelah sesi bedah buku selesai, tibalah momen yang ditunggu-tunggu: launching buku antologi cerpen.

Launching buku dilakukan oleh Direktur UT Surakarta, Pak Agus Joko Purwanto.

Acara launching juga ditampilkan dalam bentuk mockup video launching buku, yang membuat suasana terasa semakin spesial. Rasanya seperti benar-benar merayakan kelahiran sebuah karya bersama-sama.

Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan buku dan sertifikat.

Dan tentu saja, sesi yang tidak boleh ketinggalan: foto bersama.

Karena kalau tidak ada foto, nanti susah membuktikan kalau kita benar-benar ada di sana.

Hehe.

Lanjut… Sarasehan Santai




Selesai acara, ternyata kami tidak langsung pulang.

Cerita hari itu masih berlanjut.

Kami melanjutkan dengan sarasehan santai sambil menunggu waktu buka bersama. Nah, justru di bagian ini banyak cerita seru terjadi.

(Kerudung hitam: Kak Yulianti)

Akhirnya hari itu saya juga bisa bertemu langsung dengan teman sefrekuensi, Kak Yulianti.

Selama ini kami hanya saling chat dan berbagi cerita lewat pesan. Eh ternyata hari itu bisa bertemu langsung.

Rasanya seperti bertemu teman lama, padahal sebenarnya baru pertama kali bertatap muka.

Wkwkw.

Dan, udah bisa dibayangin kan? Belum pernah ketemu, tapi ngobrol hanya di dunia maya. Terus lanjut bisa meet up langsung gini. Seruuu abis.

Belum lagi ketambahan teman baru: dua adik gemesh mahasiswa UT Surakarta, Dek Renata dan Dek Elliza.

Obrolan kami langsung ngalor-ngidul.

Mulai dari cerita menulis, dunia literasi, pengalaman belajar, sampai hal-hal random yang membuat suasana jadi hangat.

Kadang memang begitu ya. Pertemuan yang awalnya terasa formal bisa berubah menjadi obrolan santai yang akrab.

(Dari sisi kiri: saya, Kak Yul, Dek Renata, Dek Elliza)

Pertemuan Singkat, Kesan Panjang

Tapi seperti biasa… waktu terus berjalan.

Tanpa terasa hari mulai sore. Obrolan harus berhenti, dan kami semua kembali ke habitat masing-masing.

Ah… rasanya masih ingin ngobrol lagi.
Masih ingin bertemu lagi.

Tapi mungkin memang begitu cara semesta bekerja.

Pertemuan yang singkat, tapi meninggalkan kesan yang panjang.

Hari itu benar-benar hari yang mantap.

Penuh cerita.
Penuh insight.
Dan tentu saja… penuh kenangan.

Terima kasih UT Surakarta untuk pengalaman berharga ini.

Semoga suatu hari nanti kita bisa duduk bersama lagi, ngobrol ngalor-ngidul lagi, dan tentu saja…

tetap menulis lagi. 

See u next time yaaa..


 Mahasiswa PPG Calon Guru Univet Sukoharjo Menlaksanakan Kegiatan Pembekalan dan Penerjunan PPL



Kamis, 5 Februari 2026 melalui zoom mahasiswa PPG Cagur Gel 1 2026 mengikuti Pembekalan dan Penerjunan PPL PPG Calon Guru Gelombangg 1 2026 Semester 1 Universitas Veteran Bangun Nusantara.

Minggu depan, tepatnya pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PPL) akan resmi dilaksanakan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses Pendidikan Profesi Guru (PPG) karena terintegrasi dengan PPL semester 1 dan 2, sehingga pelaksanaannya dirancang secara sistematis dan berkelanjutan.

Selama PPL berlangsung, mahasiswa akan mengikuti berbagai tahapan pembelajaran yang seluruhnya terpantau melalui Learning Management System (LMS). Setiap tahapan dilengkapi dengan asesmen dan tagihan yang harus dipenuhi sesuai ketentuan, sebagai bentuk evaluasi proses dan hasil belajar mahasiswa.

Rangkaian kegiatan PPL diawali dengan orientasi, yang dilaksanakan baik secara daring maupun langsung di sekolah. Pada tahap ini, mahasiswa mulai mengenal lingkungan sekolah sekaligus membangun kerja sama dengan pihak sekolah sebagai mitra utama selama PPL berlangsung.

Tahap selanjutnya adalah observasi pembelajaran yang dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengamati proses pembelajaran, karakteristik siswa, serta budaya sekolah. Hasil observasi kemudian dilaporkan melalui lembar kerja kedua di LMS, dengan data yang diperoleh dari guru pamong dan pihak sekolah.

Setelah observasi, mahasiswa melaksanakan asistensi mengajar sebanyak satu kali pertemuan. Pada tahap ini, mahasiswa membantu guru pamong dalam menyusun perangkat pembelajaran serta mempersiapkan segala kebutuhan pembelajaran. Dengan mengenal karakter dan kebutuhan siswa, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam mendukung proses belajar mengajar. Seluruh kegiatan asistensi ini dilaporkan melalui lembar kerja ketiga di LMS.

Inti dari kegiatan PPL adalah praktik pembelajaran terbimbing. Pada tahap ini, mahasiswa mendapatkan bimbingan dan arahan langsung dari guru pamong (GP) dan dosen pembimbing lapangan (DPL). Praktik pembelajaran dilaksanakan dalam tiga siklus yang diatur selama kurang lebih 11 minggu.


Setiap siklus mencakup perencanaan pembelajaran (RPP), pelaksanaan pembelajaran di kelas, evaluasi, serta refleksi dan rencana tindak lanjut (RTL) untuk perbaikan pada siklus berikutnya, dengan tetap berfokus pada kebutuhan murid.

Selama praktik mengajar berlangsung, terdapat lembar penilaian yang dibagikan kepada guru pamong dan dosen pembimbing lapangan untuk menilai kesiapan mahasiswa, proses pembelajaran, serta kemampuan refleksi. Oleh karena itu, peran guru pamong sangat diharapkan dalam membimbing, mengarahkan, dan memberikan masukan yang konstruktif kepada mahasiswa.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan PPL, mahasiswa diwajibkan menyusun laporan PPL, Penelitian Tindakan Kelas (PTK), serta artikel ilmiah dengan sintaks 4 sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan refleksi atas proses pembelajaran di lapangan.

Kegiatan pelepasan mahasiswa PPL diawali dengan pembacaan basmallah oleh Ibu Mukti Widayati, selaku Koordinator PPG Univet, sebagai tanda resmi dimulainya penugasan mahasiswa PPG di 30 sekolah dasar serta SMA/SMK. Momentum ini menjadi awal langkah mahasiswa untuk belajar langsung di sekolah, menguatkan kompetensi, serta menumbuhkan karakter sebagai calon guru profesional.

© www.jurnaljamila.com about another home of my mind · Designed by Sahabat Hosting