Keseruan Bedah Buku Antologi Cerpen UT Surakarta 2026
Ada hari-hari yang awalnya terasa biasa saja, tapi ternyata pulangnya membawa banyak cerita.
Hari Minggu, 8 Maret 2025 kemarin adalah salah satunya.
Terima kasih untuk UT Surakarta, khususnya Bu Yulia dan Kak Uci, yang sudah menghadirkan ruang belajar yang hangat dan penuh makna. Rasanya menyenangkan sekali bisa berkumpul bersama Komunitas Literasi UT Surakarta dalam momen yang sangat spesial: bedah buku sekaligus launching buku perdana antologi cerpen.
Buat saya, ini bukan sekadar acara. Tapi juga pengalaman yang berkesan.
Taraaa… acara dimulai.
Registrasi dan Pembukaan
Seperti biasa, sebelum acara dimulai, kegiatan diawali dengan registrasi. Peserta datang satu per satu, saling menyapa, dan suasana mulai terasa hangat.
Setelah semua siap, acara dibuka oleh Direktur UT Surakarta, Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si.
Sambutan beliau terasa hangat dan memberi semangat. Ada satu kalimat yang cukup membekas di kepala saya ketika beliau mengatakan bahwa:
"Pengalaman itu membentuk jiwa yang baru."
Saya langsung berpikir… iya juga ya.
Banyak hal dalam hidup yang akhirnya mengubah cara kita berpikir, bukan karena teori panjang lebar, tapi karena pengalaman yang kita jalani sendiri.
Momen Deg-Degan: Membaca Cerpen
Setelah sambutan pembuka, acara dilanjutkan dengan sesuatu yang membuat saya agak deg-degan tapi juga senang.
Saya diberi kesempatan untuk membacakan cerpen karya saya sendiri yang dimuat dalam buku antologi cerpen tersebut.
Hehe… ini benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan.
Apalagi pembacaan cerpen itu diiringi petikan gitar dari Dek Krendy, Ketua Organisasi Mahasiswa UT Surakarta. Suasananya langsung terasa lebih hidup dan hangat.
Menariknya, sebenarnya saya dan Dek Krendy sudah pernah “bertemu” sebelumnya. Tapi waktu itu hanya di dunia maya, tepatnya dalam satu grup WhatsApp saat kegiatan Dies Natalis UT Surakarta ke-40 pada tahun 2024 yang mengusung tema inovasi pendidikan jarak jauh dalam bahasa daerah masing-masing.
Nah, kegiatan Dies Natalis ini, sempat kebingungan dengan beberapa hal. Saya juga sempat bertanya-tanya kepada Dek Krendy. Untungnya ia sangat membantu.
Nah, di acara bedah buku ini akhirnya kami bisa bertemu langsung. Oh ya, menurutku dia pemuda yang keren dari segala arah deh.
Terima kasih banyak sudah diberi kesempatan tampil di kegiatan yang bagus ini. Semoga tidak mengecewakan ya… hehe.
Yuk, Masuk ke Acara Inti: Bedah Buku
Setelah sesi pembacaan cerpen selesai, acara dilanjutkan ke inti kegiatan yaitu bedah buku antologi cerpen.
Acara ini dimoderatori oleh Bu Dra. Yulia Budiawati, M.Si yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur UT Surakarta pada periode 2018–2025 sebelum akhirnya posisi tersebut kini dipegang oleh Pak Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si.
Sementara itu, Kak Uci hadir sebagai narasumber yang membedah isi buku dengan cara yang santai, tetapi penuh makna.
Beliau ini full insight juga. Dari pengalaman hidupnya dan pengalaman nulisnya. Ah wow banget deh. Bisa dikepoin di IG nya @velou_ra
Sebelum buku antologi ini diluncurkan, sebenarnya kami para penulis sudah beberapa kali bertemu secara daring melalui Microsoft Teams. Kak Uci lah yang membimbing kami dalam proses kepenulisan sepanjang tahun 2025.
Daring ini dipandu sama Mbak Maol. Siapa sih yang gak tahu Mbak Maol UT Surakarta? Tahu lah ya. Seringkali juga aku chat an sama Mbak Maol ini. Seneng banget bisa bertemu dan ngobrol juga di acara bedah buku ini.
Oh ya, kalau mengingat kembali sesi di Teams, yang paling saya ingat adalah saat kebingungan menuangkan ide.
Saat itu Kak Uci menyarankan untuk membuat mind map atau peta konsep terlebih dahulu, lalu ide-ide tersebut diurai sampai menjadi cerita yang lebih mengerucut.
Dan yang paling terasa justru saat proses revisi.
Di situ saya baru benar-benar sadar:
"Oh… ternyata begini cara menulis yang baik agar pembaca bisa masuk ke dalam tulisan."
Ngomong-ngomong soal Bu Yulia, saya sebenarnya sudah pernah bertemu beliau sebelumnya.
Waktu itu tahun 2023, saat beliau masih menjabat sebagai Direktur UT Surakarta dan melakukan kunjungan ke Pokjar Grobogan. Saat itu saya masih mahasiswa alih kredit PGSD.
Jujur saja, waktu pertama kali melihat beliau, saya sempat merasa tatapannya tajam dan terlihat cukup tegas.
Tapi ternyata ketika bertemu langsung lagi di acara bedah buku ini, kesannya justru berbeda. Bu Yulia ternyata ramah, asyik diajak ngobrol, dan terasa keibuan.
Benar-benar beda dari kesan pertama saya dulu. Hehe.
Kalimat yang Nempel di Hati
Dalam sesi bedah buku kemarin, ada beberapa kalimat yang rasanya langsung nempel di hati.
Kak Uci mengatakan sesuatu yang sederhana tapi kuat:
“Dunia boleh saja jungkir balik, tapi kita harus tetap utuh.”
Buku ini berisikan perjuangan untuk meraih mimpi-mimpi. Banyak juga insight yang diambil dari berbagai POV penulis. Tentunya, buku ini bakal menginspirasi para pembacanya.
Kak Uci juga menyampaikan terkait mimpi-mimpi, bahwa:
"Percayalah mimpi itu pasti bakal terwujud, namun menunggu timeline yang tepat."
Beliau juga mengupamakan seperti, "mimpi itu kayak matahari dan bulan. Mereka tuh sama-sama bersinar, tapi tidak pada waktu yang sama."
Udah kebayang kan? Isi dari buku kami hehe Semenarik itu deh pokoknya :-)
Sementara Bu Yulia juga memberikan pesan penting bagi para penulis:
“Menulis jangan diniatkan untuk banyak pembaca atau banyak cuan. Niatkan menulis untuk berbagi. Dengan begitu kita tidak mudah kecewa.”
Beliau juga menambahkan pesan yang tidak kalah penting:
“Seringlah membaca buku.”
Kalimat-kalimat itu terasa sederhana, tapi menenangkan.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan angka—berapa orang yang membaca tulisan kita, berapa yang membeli buku kita, atau berapa yang menyukai karya kita.
Padahal mungkin yang lebih penting adalah keberanian untuk menulis dan berbagi cerita.
Momen Launching Buku
Setelah sesi bedah buku selesai, tibalah momen yang ditunggu-tunggu: launching buku antologi cerpen.
Launching buku dilakukan oleh Direktur UT Surakarta, Pak Agus Joko Purwanto.
Acara launching juga ditampilkan dalam bentuk mockup video launching buku, yang membuat suasana terasa semakin spesial. Rasanya seperti benar-benar merayakan kelahiran sebuah karya bersama-sama.
Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan buku dan sertifikat.
Dan tentu saja, sesi yang tidak boleh ketinggalan: foto bersama.
Karena kalau tidak ada foto, nanti susah membuktikan kalau kita benar-benar ada di sana.
Hehe.
Lanjut… Sarasehan Santai
Selesai acara, ternyata kami tidak langsung pulang.
Cerita hari itu masih berlanjut.
Kami melanjutkan dengan sarasehan santai sambil menunggu waktu buka bersama. Nah, justru di bagian ini banyak cerita seru terjadi.
Akhirnya hari itu saya juga bisa bertemu langsung dengan teman sefrekuensi, Kak Yulianti.
Selama ini kami hanya saling chat dan berbagi cerita lewat pesan. Eh ternyata hari itu bisa bertemu langsung.
Rasanya seperti bertemu teman lama, padahal sebenarnya baru pertama kali bertatap muka.
Wkwkw.
Dan, udah bisa dibayangin kan? Belum pernah ketemu, tapi ngobrol hanya di dunia maya. Terus lanjut bisa meet up langsung gini. Seruuu abis.
Belum lagi ketambahan teman baru: dua adik gemesh mahasiswa UT Surakarta, Dek Renata dan Dek Elliza.
Obrolan kami langsung ngalor-ngidul.
Mulai dari cerita menulis, dunia literasi, pengalaman belajar, sampai hal-hal random yang membuat suasana jadi hangat.
Kadang memang begitu ya. Pertemuan yang awalnya terasa formal bisa berubah menjadi obrolan santai yang akrab.
(Dari sisi kiri: saya, Kak Yul, Dek Renata, Dek Elliza)Pertemuan Singkat, Kesan Panjang
Tapi seperti biasa… waktu terus berjalan.
Tanpa terasa hari mulai sore. Obrolan harus berhenti, dan kami semua kembali ke habitat masing-masing.
Ah… rasanya masih ingin ngobrol lagi.
Masih ingin bertemu lagi.
Tapi mungkin memang begitu cara semesta bekerja.
Pertemuan yang singkat, tapi meninggalkan kesan yang panjang.
Hari itu benar-benar hari yang mantap.
Penuh cerita.
Penuh insight.
Dan tentu saja… penuh kenangan.
Terima kasih UT Surakarta untuk pengalaman berharga ini.
Semoga suatu hari nanti kita bisa duduk bersama lagi, ngobrol ngalor-ngidul lagi, dan tentu saja…
tetap menulis lagi.
See u next time yaaa..





