Menguatkan Guru Profesional dan Literasi Kesehatan Mental

by Jamilatul Istiqomah, Januari 28, 2026

Menguatkan Guru Profesional dan Literasi Kesehatan Mental


Orientasi Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru (CAGUR) Gelombang 1 tahun 2026 resmi dibuka dengan arahan dari Pak Direktur dan Dirjen. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya perjalanan penting bagi para calon guru untuk menyiapkan diri menjadi pendidik profesional di masa depan.

Dalam sambutannya, disampaikan bahwa PPG bukan sekadar formalitas akademik, tetapi sebuah jembatan pembentukan guru muda yang profesional, tidak hanya unggul secara pedagogik, tetapi juga kuat secara akademik, kepemimpinan, dan karakter. Pesannya jelas: jalani proses PPG dengan sungguh-sungguh, karena dari sinilah kualitas guru Indonesia dibentuk.

PPG dan Penguatan Sumber Daya Manusia Guru

Bu Nunuk menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia, khususnya guru, menjadi fokus utama. Guru masa depan diharapkan tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran, pendamping peserta didik, dan agen perubahan di sekolah. PPG adalah ruang pembelajaran untuk menempa semua peran itu.

Literasi Kesehatan Mental: Guru Bukan Sekadar Pengajar


Sesi berikutnya diisi oleh Dr. Eka Wahyuni, MAAPD, yang membahas literasi kesehatan mental. Sesi ini diawali dengan pertanyaan sederhana namun bermakna:

“Bagaimana kabar dan perasaan kita hari ini?”

Pertanyaan ini menjadi pintu masuk refleksi bahwa kesehatan mental adalah hal yang dekat dengan keseharian guru dan peserta didik. Dr. Eka menegaskan, sesuai arahan Menteri Pendidikan, guru bukan hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, pendidik, dan pendamping peserta didik dalam proses tumbuh kembang mereka.


Sebelum materi dimulai, peserta diajak untuk merefleksikan kondisi diri, karena guru yang sadar akan kondisi mentalnya sendiri akan lebih peka terhadap kondisi muridnya.

Guru Bahagia, Murid Bahagia


Materi dilanjutkan oleh Dr. Karsih, M.Pd, yang menekankan bahwa guru adalah kunci terciptanya kelas yang kondusif.



Guru yang bahagia akan menciptakan murid yang bahagia. Sebaliknya, tekanan yang dialami guru dapat berdampak langsung pada suasana kelas.

Beliau mengingatkan bahwa di lapangan terdapat kasus-kasus serius, termasuk peserta didik yang mengalami tekanan mental berat hingga tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, guru perlu aware dan peka terhadap tanda-tanda awal, agar tidak memperburuk kondisi mental anak.

Peserta didik sering kali bingung harus mencari bantuan ke mana. Dalam situasi ini, guru adalah akses pertama yang paling dekat dengan mereka.


Memahami Perilaku Murid Tanpa Stigma

Mengupload: 260526 dari 260526 byte diupload.


Dr. Karsih mengangkat contoh nyata di kelas, seperti:

  • Murid yang menyendiri dan dilabeli “antisosial”

  • Murid yang mudah marah lalu dijauhi teman-temannya

  • Murid yang hiperaktif dan sulit mengikuti pembelajaran


Label dan stigma justru membuat anak merasa tidak berharga, tidak percaya diri, dan memperburuk kondisi mentalnya. Padahal, yang dibutuhkan adalah pemahaman dan pendampingan, bukan penghakiman.

Guru diingatkan untuk tidak terburu-buru memberi diagnosis, tetapi menggunakan deskripsi perilaku: apa yang terlihat, kapan muncul, dan bagaimana dampaknya pada proses belajar.

Mitos-mitos Penyakit Mental

Beliau juga menyampaikan tentang mitos-mitos penyakit mental, diantaranya sebagai berikut:


Diskusi Kasus: Peran Guru sebagai Penghubung

Beberapa kasus yang didiskusikan dalam sesi ini antara lain:

1. Murid laki-laki dengan perilaku keperempuanan

Ditekankan bahwa:

  • Perilaku, identitas gender, dan orientasi seksual adalah hal yang berbeda

  • Guru berfokus pada perilaku di kelas, bukan memberi diagnosis

  • Diagnosis hanya dapat dilakukan oleh ahli

2. Orang tua tidak percaya hasil diagnosis

Penolakan orang tua sering terjadi karena:

  • Fase denial

  • Rasa malu dan stigma sosial

Tugas guru adalah mendampingi dan mengedukasi, menyampaikan bahwa diagnosis bukan label, tetapi langkah awal untuk membantu anak berkembang lebih baik.

3. Anak hiperaktif dalam pembelajaran

Guru perlu melakukan asesmen awal untuk membedakan:

  • Anak dengan kelebihan energi

  • Anak dengan ADHD

Dari asesmen tersebut, guru menentukan apakah bisa ditangani di kelas atau perlu dirujuk ke ahli. Sekali lagi, guru adalah penghubung, bukan penentu diagnosis akhir.


Menghapus Stigma Kesehatan Mental

Salah satu pesan kuat dari sesi ini adalah tentang menghapus stigma.
Ketika seseorang mengalami gangguan pikiran, emosi, atau perilaku, itu sama halnya dengan organ tubuh lain yang sakit.

Jika jantung sakit, kita ke dokter jantung.
Jika paru-paru sakit, kita ke dokter paru.
Maka ketika pikiran dan emosi bermasalah, mencari bantuan profesional adalah hal yang wajar.

Justru, orang yang mencari bantuan adalah orang yang kuat, karena ia sadar dan bertanggung jawab terhadap dirinya.



Deteksi Dini dan Kelas yang Menyenangkan

Deteksi dini akan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Guru diharapkan:

  • Mengamati perilaku murid secara detail

  • Memahami karakteristik peserta didik

  • Peka terhadap sinyal-sinyal yang berbeda dari kebiasaan

Tidak semua kelas yang berisik adalah masalah, bisa jadi itu karakter. Namun, murid yang tiba-tiba menyendiri atau menunjukkan perubahan perilaku perlu mendapatkan perhatian khusus.

Guru juga diingatkan untuk:

  • Lebih banyak mendengarkan (kita punya 2 telinga dan 1 mulut)

  • Tidak menegur atau melabeli murid di depan teman-temannya

  • Tidak membawa murid ke psikiater tanpa persetujuan orang tua


Guru Juga Manusia

Ditekankan bahwa guru juga manusia yang tidak lepas dari stres dan tekanan. Kesehatan mental guru sangat berpengaruh pada suasana kelas dan perkembangan murid.


Level 1 – Kesehatan Mental Positif pada Individu Calon Guru

Kesehatan mental positif pada individu calon guru ditandai dengan kemampuan mengenali emosi diri, mengelola stres, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan kehidupan pribadi. Calon guru yang memiliki kesadaran diri dan praktik perawatan diri (self-care) akan lebih siap menghadapi tantangan selama proses PPG dan pembelajaran di sekolah.


Level 2 – Peran Profesional Guru dalam Kesehatan Mental

Sebagai seorang profesional, guru berperan penting dalam menciptakan interaksi pembelajaran yang aman, empatik, dan mendukung kesehatan mental peserta didik. Guru tidak hanya mengajar materi, tetapi juga menjadi fasilitator dan pendamping yang peka terhadap perubahan perilaku, mampu mendeskripsikan kondisi murid secara objektif, serta menjembatani kebutuhan peserta didik dengan orang tua dan tenaga profesional.


Level 3 – Lingkungan Sekolah yang Mendukung Kesehatan Mental

Lingkungan sekolah yang sehat secara mental ditandai dengan budaya saling menghargai, bebas stigma, dan adanya sistem dukungan bagi guru maupun peserta didik. Sekolah yang kondusif mendorong komunikasi terbuka, kolaborasi, serta deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental, sehingga seluruh warga sekolah merasa aman, diterima, dan mampu berkembang secara optimal.


Mengenali Emosi

Mengenali emosi adalah kemampuan untuk menyadari, memahami, dan memberi nama pada perasaan yang sedang dialami, seperti senang, sedih, marah, cemas, atau lelah. Dengan mengenali emosi, seseorang dapat memahami penyebab perasaannya, mengendalikan respons yang muncul, serta mengambil keputusan yang lebih tepat. Bagi calon guru, kemampuan mengenali emosi menjadi dasar penting untuk menjaga kesehatan mental, mengelola stres, dan membangun hubungan yang positif dengan peserta didik.


Berikut tahap-tahap mengenali emosi yang disusun sederhana dan mudah dipahami



Strategi Coping 

(cara mengelola stres dan emosi)

Dalam menjalani peran sebagai guru dan calon guru, berbagai tuntutan dan tantangan sering kali memunculkan stres serta tekanan emosional. Oleh karena itu, diperlukan strategi coping sebagai upaya untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku secara sehat. Pemahaman terhadap strategi coping membantu guru mengenali cara yang tepat dalam menghadapi situasi sulit, menjaga kesehatan mental, serta tetap bersikap profesional dalam mendampingi peserta didik. Dengan strategi coping yang efektif, guru diharapkan mampu beradaptasi, bangkit dari tekanan, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif.





Self Care

Self care bukanlah bentuk keegoisan, melainkan kebutuhan dasar agar kita tetap sehat secara fisik dan mental. Bagi guru dan calon guru, tuntutan peran yang beragam sering kali membuat kita lupa merawat diri sendiri. Padahal, guru yang mampu mengenali batas diri, mengelola emosi, dan memberi ruang untuk beristirahat akan lebih siap mendampingi peserta didik dengan empati dan kesabaran. Melalui pemahaman dan praktik self care, diharapkan setiap guru dapat menjaga keseimbangan diri, meningkatkan kesejahteraan, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.














Refleksi sederhana diajukan:

Bagaimana kondisi saya selama satu minggu terakhir?

Kesadaran diri dan praktik self-care menjadi kunci agar guru tetap sehat, sejahtera, dan mampu mendampingi peserta didik dengan optimal.

Penutup

Orientasi PPG CAGUR ini menegaskan bahwa menjadi guru profesional bukan hanya soal kemampuan mengajar, tetapi juga tentang kepekaan, empati, dan kesadaran akan kesehatan mental—baik bagi murid maupun diri sendiri.

Karena pada akhirnya, kelas yang sehat lahir dari guru yang sehat.


SHARE 0 comments

Add your comment

© www.jurnaljamila.com about another home of my mind · Designed by Sahabat Hosting